Kesehatan merupakan salah satu anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri tanpa kesehatan manusia tak akan bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Bagi saya arti sehat tidak hanya terletak pada fisik belaka, tetapi juga sehat secara jasmani dan rohani. Kesehatan rohani juga penting untuk keseimbangan jiwa, ketika seseorang mengalami ganggungan dalam jiwanya maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan, sebagaimana yang terjadi pada mereka yang memiliki kondisi keterbelakangan mental atau kecerdasan yang di bawah rata-rata.
Kondisi kesehatan itu sering saya temukan dalam kehidupan sehari-hari. Sepupu saya adalah salah satu dari mereka yang memiliki keterbelakangan mental sejak lahir. Sebenaranya, kelainan mental dapat disebakan oleh berbagai macam sebab, di antaranya kecelakaan saat mengandung, kelainan genetik ,atau bahkan penyakit.
Sayangnya, kondisi semacam sepupu saya itu, sering disalah artikan oleh masyarakan setempat. Pemikiran yang mengaitkan kondisi mental dengan mitos-mitos setempat masih banyak diyakini masyarakat. Akibatnya, beredar segala macam praduga dan pandangan miring, seperti terkena jampi-jampi. Namin, mitos yang paling diyakini adalah kondisi tersebut merupakani karma yang disebabkan perbuatan orang tuanya di masa lalunya. Karma itulah yang mengakibatkan kondisi tak lazim pada si anak.
Di masyarakat seringkali orang yang memiliki keterbelakangan mental dianggap lebih rendah dibandingkan dengan orang pada umumnya, sehingga diperlakukan seenaknya saja. Terkadang perlakuan yang sama didapatkan pula dari keluarga sendiri seperti dipasung agar tidak mengganggu warga lainnya atau sekedar untuk menyembunyikan aib anak mereka. Seringnya, keluarga merasa malu ketika salah satu anggota keluarganya memiliki keterbelakangan mental lantaran pandangan masyarakat yang menganggap ha tersebut merupakan sebuah bencana atau karma.
Pada akhirnya, ketika seorang penyandang dipasung maka semakin bertambahlah derita yang didapat. Selain tak mendapat kebebasan, ia juga akan kehilangan teman serta mempersempit potensinya untuk berkembang. Rasanya, pemasungan kurang tepat apabila diterapkan kepada mereka yang mengalami keterbelakangan mental. Sebab selain bertentangan dengan hak asasi sebagai manusia, rasanya lebih baik jika mereka dibiarkan membaur dengan masyarakat sekitar, tentu dengan pengawasan.
Sebab bagaimana pun, mereka tetap membutuhkan interaksi sosial untuk perkembangan otaknya. Selain itu mereka juga perlu untuk memahami lingkungan sekitar dan yang paling penting adalah pendidikan. Memasing mereka tak ubahnya merenggut kebebasan dan hak mereka sebagai manusia.
Meskipun memiliki kecerdasan dibawah rata-rata, namun bukan berarti mereka tak memiliki potensi untuk mengembangkan diri. Malahan, Sering dari anak yang memiliki keterbelakangan mental meraih penghargaan, di berbagai kacah perlombaan. Maka dari itu, masri berhenti memandang mereka dengan sebelah mata.
Oleh karena hal-hal itu, salah apabila di antara kita masih mengucilkan mereka. Sebab, seyogyanya mereka membutuhkan dukungan dan pengertian untuk terus berproses dan mengembangkan dirinya. Untuk mewujudkan itu, pandangan miring maupun mitos yang kita sematakan pada mereka maupun keluarganya perlu segera dihapuskan. Pengucilan, intimidasi, dan kekerasan baik verbal maupun non verbal yang sering didapat orang-orang berkebutuhan khusus tersebut mesti kita cegah.
Sebab, pada hakikanya kita dan mereka adalah sama. Kita dan mereka adalah manusia yang menikmati kebabasan dan hak-hak sebagai manusia.
Selasa, 21 April 2020
Retardasi mental
Selasa, 10 Maret 2020
Keistimewaan Seorang Guru di Madura
Bhuppa, bhabhu, ghuru, rato merupakan salah satu falsafah yang dipegang teguh orang Madura. Ungkapan yang bermakna ayah, ibu, guru ratu tersebut merupakan manifestasi dari kepatuhan orang Madura kepada figur-figur yang disebut.
Adanya ungkapan itu, secara tersirat menyatakan bahwa tokoh-tokoh yang disebut merupakan seseorang yang mesti di hormati oleh setiap Madura. Orang tua menempati urutan pertama yang disebut. Hal tersbut barangkali lantaran mengingat ayah yang bekerja keras dan ibu yang melahirkan, merawat dan mendidik sedari kecil.
Yang unik dari falsafah tersebut adalah orang Madura menempatkan guru terlebih dahulu lalu pemerintah. Padahal biasanya masyarakat akan memilih orang pemerintahan dahulu, seperti yang terjadi di daerah saya. Seringnya masyarakat lebih hormat kepada kepala daerah dibandingkan dengan kyai atau sesepuh. Karena Kyai, umumnya cuma dianggap sebagai pemuka agama belaka.
Namun, apakah yang menjadikan guru, terlebih kyai di Madura begitu dihormati?
Rupanya, guru di Madura, terlebih kyai memiliki pengaruh yang besar dalam lini kehidupan masyarakat. Orang Madura menggantungkan banyak hal kepada para kyai, mereka tak segan untuk mengkonsultasikan hal-hal yang bersifat pribadi, misalnya perjodohan atau karir pada kaum kyai.
Awalanya, saya berpikir bahwa kepatuhan orang Madura yang berlebih kepada para kyai merupakan sebuah kebiasaan yang kolot dan terkesan feodal. Bukan tanpa alasan, dulu saya berpikir demikian lantaran memandang kyai juga sebagai manusia biasa, sama seperti yang lain. Maka harap dimaklumi jika cerita teman saya tentang orang-orang Madura yang menyerahkan segala urusan kepada kyai -lebih-lebih urusan yang bersifat pribadi, saya pandang sebagai sesuatu yang hiperbolis. Terlebih, bagi saya setiap manusia bisa memutuskan sesuatu sendiri lantaran setiap keputusan kembali ke diri mereka sendiri.
Di sisi lain, sebagian besar masyarakat Madura adalah muslim dan menempuh pendidikan di pesantren. Maka wajar apabila tradisi pesantren seperti sowan dan andhapashor (merendah kan diri serendah-rendahnya) kepada guru masih begitu melekat pada diri mereka.
Saking hormatnya orang Madura kepada kyai, doa seorang kyai dianggap manjur untuk pengobatan dan pelancar segala urusan. Yang lebih mencengangkan, di Madura seseorang dengan gelar professor sekalipun, jangan harap bisa dihormati apa bila tidak menghormati gurunya. Bagi orang Madura, orang yang lupa pada gurunya lebih pantas untuk dikucilkan.
Zaman boleh saja modern, namun keyakinan apada kyai bagi orang Madura masih tetap menjadi keajiban. Terlebih dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, bisa menjebak orang-orang pada ilusi sains. Maka di saat itu, peran seorang seperti kyai di kampung dapat menjadi perekat solidaritas dan ritual keagamaan.
Mungkin di sisi lain tak semua orang bisa menjadi figure seorang guru agama, meskipun gelar guru agama bisa di dapatkan melalui keturunan. Sehingga rasa sowan itu salah satu bentuk rasa hormat pada gurunya yang mengajarkan dan mendidik untuk menjadi manusia seutuhnya, tanpa ada ikatan apapun. Karena kedekatan yang terjalin antara masyarakat dan kyai, sehingga timbul rasa kepercaayaan dan menyerahkan kepada orang yang lebih paham mengenai masalahnya dan mungkin itu salah satu tradisi orang Madura.
Atau mungkin, orang Madura sangat memegang teguh sebuah sabda, jangan menyerahkan sesuatu bukan kepada ahlinya. Dan kyai di mata orang Madura, bukan sekedar ahli agama, bukan sekedar guru belaka. Lebih dari itu, kyai bagi mereka merupakan sosok teladang, orang yang patut di gugu dan ditiru.
Minggu, 08 Desember 2019
PULANG
Pulang. Novel Pemenang Katulistiwa Literary Award 2013. Novel yang berisi perlawanan, keluarga, cinta dan persahabatan. Jalan cerita yang lambat, tapi membuat rasa penasaran. Dengan latar belakang Indonesia dan Prancis.
Novel yang menggambarkan gejolak politik di Indonesia pada September 1965 dan 1998 serta Prancis Mei 1968.
Pada September 1965, munculnya Komunis atau paham kiri hingga peristiwa G 30S/PKI yang berakibat pada keluarga diintrogasi, dikucilkan oleh publik, tak ada akses untuk bekerja di pemerintahan sampai ada tanda khusus di KTP seorang komunis. Hingga Dimas Suryo (netral), Hananto dan Nugroho (pro PKK) dkk menjadi tapol dan mengungsikan diri ke luar negeri. Meskipun peristiwa tersebut telah usai, keluarga tetap merasakan dampaknya.
Indonesia Mei 1998, terjadi banyak tragedi, misal tanggal 13-14 Mei terjadi kerusuhan rasial kepada etnis Tionghoa, kritik terhadap pemerintah Orde Baru dan keruntuhan akibat krisis finansial Asia dan masih banyak kejadian lain. Pada 21 Mei 1998 berakhirnya masa Orde Baru.
Sedang di belahan bumi lain, tepatnya di Prancis di tahun yang berbeda di bulan yang sama Mei 1968 terjadi demonstrasi karena ketidakpuasan terhadap pemerintah dan tatanan sosial. Peristiwa yang diawali oleh mahasiswa dan pelajar hingga kaum buruh. Prancis yang konservatif, konsumtif menjadi Liberte, Egalite, Fraternite. Hingga melahirkan Revolusi 1789.
Bagi saya, aksi masa yang dilakukan mahasiswa di Prancis tahun 1968 sama dengan aksi mahasiswa tahun 2019 yang baru baru saja terjadi karena memprotes beberapa pasal-pasal RUU KUHP. Dari mahasiswa hingga pelajar.
'Generasi baru yang merasa tidak bisa didekte oleh sesuatu yang mereka anggap tidak rasional. Mereka adalah generasi baru yang cerdas, yang mulai berpikir mandiri'
Fyi, secara garis besar novel ini memaparkan tentang 4 seorang pria yang menjadi tapol di Indonesia. Pergi ke Prancis mendirikan sebuah restoran dan melakukan perlawanan.
Sabtu, 23 November 2019
LAUT BERCERITA KARYA LEILA S CHUDORI
Novel Laut Bercerita memakai dua sudut pandang dari Biru Laut sebagai korban dan Asmara Jati dari keluarga korban. Buku setebal 379 halaman ini menggambarkan betapa kejamnya rezim saat itu, yang kritis dibungkam, rakyat hidup dalam tekanan dan banyak orang diculik tak pernah kembali.
Selain itu, novel ini fiktif tapi terasa nyata, sungguh. Hingga saya meneteskan air mata dibuat merinding akan jalannya cerita, karena penulis mampu menggambarkan betapa tersiksa dan menderitanya aktivis, persahabatan, dan psikologis keluarga yang kehilangan dan tak pernah kembali. Ditambah cover yang menarik mata dan try to read this book dikemas dengan latar belakang sejarah, berdasarkan kisah nyata namun mudah dipahami.
Matilah engkau mati
Kau akan lahir berkali-kali...
Recommended bagi yang suka novel berlatar belakang sejarah.
Rabu, 20 November 2019
LARASATI
Larasati. Perempuan idealis, penuh semangat nasionalisme, dan cantik. Seorang aktris tersohor di masa revolusi, yang dikenal seluruh rakyat, pria berotak dan berjantungpun akan memujanya serta ingin memiliki tubuhnya. Sebagai perempuan yang berkecukupan di masa hidupnya, Larasati dengan kecantikannya bisa melacurkan dirinya dan dia bangga akan kecantikannya sehingga bisa berbuat semaunya terhadap laki-laki.
Sebagai seorang aktris tersohor dia tak akan mau main propaganda Belanda untuk memusuhi revolusi. Hal ini dibuktikan ketika Larasati diminta untuk membintangi sebuah film perempuan pemberontak terhadap penjajah, tapi tawaran itu ditolak olehnya. Meskipun dia di iming-iming dengan uang dua kali lipat honor yang ditetapkan. Karena rasa cintanya pada tanah air, dibuktikan dengan dia ikut melawan penjajah bersama pemuda di kampungnya, meskipun memakai rok tak menjadi penghalang untuk melawan musuh. Bagi saya, Larasati adalah sosok Kartini di era kolonial yang melakukan perlawanan kepada penjajah dengan caranya sendiri.
Semoga di zaman millenial ini, ada perempuan dengan jiwa Ibu Kartini.
Kamis, 07 November 2019
Cantik Itu Luka
Ini buku pertama Eka Kurniawan yang saya baca, Cantik Itu Luka. Saat pertama baca saya scared dengan bahasanya yang frontal dan vulgar ditambah sejarah, mitos dan penyimpangan seksualitas. Bagi saya salah satu yang menarik dari buku ini adalah penyimpangan seksualitas yg dilakukan para tokohnya. Penyimpangan yang dilakukan berbagai macam
Yang pertama adalah Incest. Terjadi pada pasangan Henri Stammler dan Aneu Stammler, which was mereka adalah kakak beradik yang berbeda ibu. Keduanya jatuh cinta dan ketauan tengah bercinta hingga meninggalkan Dewi Ayu di depan pintu. Berlanjut hingga di keturunan Dewi Ayu, yang terjadi pada Krisan ( putra Kamerad Kliwon dan Adinda) yang memperkosa sepupunya sendiri, Rengganis ( putri Maman Gendeng dan Maya Dewi) serta meniduri bibinya sendiri, Si Cantik.
Kedua, Sadomasokisme. Tercermin pada perilaku Sang Shodanco yang memperkosa Alamanda (istrinya) dengan keadaan diikat di kasur dan telanjang bulat
Ketiga, Bestiality. Kisah Rengganis Sang Putri mengawini seekor anjing saat di Halimunda, kembali terjadi pada Rengganis, putri Maman Gendeng yang mengatakan diperkosa oleh seekor anjing dan hamil. Ini sama seperti cerita rakyat yang terjadi ke Dayang Sumbi menikah dengan Tumang, seekor anjing.
Keempat, Pedofilia. Pernikahan dibawah umur terjadi pada Maman Gendeng yang dikawinkan dengan Adinda, saat berumur dua belas tahun. Pernikahan dibawah umur kerap terjadi di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, salah satu faktornya orang tua dalam pembentukan diri remaja dengan alasan calon pria sudah mapan dan dewasa.
Kelima, Spectrophilia. Kecenderungan seksual ini, mereka yang melakukan hubungan dengan roh atau hantu. Mungkin terdengar tidak logis, tapi itulah yang terjadi pada Si Cantik yang jatuh cinta dan bersenngama dengan pria yang tidak nampak, tidak bisa dilihat oleh ibunya ataupun Rosinah.
Sebab cantik itu luka. (hal 478)
Bagi saya kalimat itu, kehidupan mereka tidak seelok wajah yang mereka miliki. Sekian dan terima kasih
Kamis, 03 Oktober 2019
Perempuan Di Titik Nol
Dari kutipan diatas, saya berpikir bahwa tugas perempuan hanya dijadikan budak pemuas nafsu, dan tugasnya hanya macak, manak, masak (berdandan, beranak, memasak) dan tidak di izinkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, sampai di jenjang sekolah menengah saja. Dan kesempatan bekerja pun kecil, tidak memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin di perusahaan, hanya seorang karyawati atau buruh kelas bawah. Tokoh utama novel ini mengalami dan menggambarkan bagaimana budaya patriarki.
Di zaman modern sekarang, budaya patriarki tetap ada, namun berbeda cara penjajahannya. Sekarang ini perempuan mengalami pelecehan seksual secara verbal, seperti catcall atau harrasment street. Budaya patriarki memposisikan pihak laki-laki adalah pihak yang gagah dan memiliki keleluasaan untuk melakukan apapun, sementara perempuan dianggap lemah. Gaya kepenulisan penulis mampu membawa para pembaca menyelami kehidupan tokoh utama dan di tulis berdasarkan kisah nyata.
Summary of Emotional Intelligence by Daniel Goleman | Keluarga
> anak-anak adalah murid yang sangat peka terhadap perubahan emosi. > kehidupan keluarga adalah sekolah pertama untuk mempelajari emos...
-
Judul : Perempuan Di Titik Nol Nama Penulis : Nawal el - Saadawi Penerjemah : Amir Sutaarga Penerbi...
-
Maybe, I'm fallin' for you I see the waters and make you shine Seeing the rain and remember you How we could met And sta...
-
Judul buku : A Man Called Ove Penulis : Fredrik Backman Penerbit : Noura Books Cetakan/tahun terbit : 1, Januari 2016 Halaman : 440 ISBN :97...